Pages

Minggu, 19 April 2015

MASIH ADA MENTARI YANG AKAN BERSINAR

Share on :
         


Sudah 2 minggu dia mengunci diri di kamarnya dan tak seorangpun diizinkan masuk.Dia akan membukakan sedikit pintu kamarnya tatkala Ibu mengantarkan makanannya yang di taruh di depan pintunya.Dia merasa hidupnya telah hancur dan diliputi rasa bersalah terhadap orang-orang terdekatnya sete -
lah peristiwa tawuran antara pelajar SMA dan balapan motor hanya gara-gara rebutan seorang gadis.
       Ya..peristiwa kelam yang telah menodai nama baik sekolahnya maupun kedamaian kota kami.Peristiwa tawuran yang memakan 3 korban jiwa dan beberapa korban luka-luka hingga harus dirawat di rumah sakit.
     “Apakah dirimu akan terus menerus mengurung diri di kamarmu ini?”tanyaku geram.
    “Bagaimana kau bisa masuk ke kamarku? Bukankah Ibu yang seharusnya mengantarkan makananku?”tanyanya marah.

   “Saya sudah muak tapi sedih karena melihat kakakku yang selama ini kubanggakan dan kukagumi menjadi seorang pengecut.Mengurung diri sehingga sekolahmu sendiri terbengkalai.Membiarkan orang tuamu dan adikmu terluka perasaannya selama ini !” sahutku menahan kemarahan.
      “Kau tidak mengerti bagaimana hancurnya perasaanku karena kehilangan kaki kananku dan kepergian sahabatku tercinta gara-gara tawuran dan balapan motor itu,Andrea !”
     “Tapi kejadian itu bukan salahmu,Kak! Dirimu justru korban
akibat ulah teman-temanmu.Seandainya dirimu tidak ikut pulang bareng temanmu,tidak mungkin dirimu terbawa arus tawuran itu.”jawabku pelan.
      “Aku justru yang ikut andil besar atas peristiwa tawuran itu.Seandainya diriku tidak bercerita sesuatu kepada mereka tentu mereka tidak akan marah dan menyulut api perkelahian antara pelajar.Seandainya mulutku tertutup mungkin sahabatku masih hidup saat ini.”
     “Sudahlah Kak,yang berlalu biarlah berlalu.Allah swt sudah mengatur jalan hidup dan mati kita semua.Termasuk sahabat-
mu yang mungkin kematiannya dengan cara tragis seperti itu.
Sekarang gimana caranya kita merubah prilaku kita menjadi baik sebagai penebus kesalahan kita.Bukannya justru kita menyia-nyiakan hidup yang telah Allah swt berikan”nasehatku.
    “Kakakmu ini sudah cacat,Andrea ! Lihatlah,kaki kananku su
dah tak ada selutut.Sudah tak bisa berjalan normal kecuali dengan bantuan sebuah kruk(tongkat penyangga).Aku belum sanggup menatap dunia luar dengan jasmaniku yang cacat ini.”
     “Dirimu harus bangkit,Kak! Kehilangan kaki bukan alasan untuk menutup masa depanmu.Banyak orang-orang yang cacat jasmani justru mampu menaklukan kejamnya dunia bahkan memberikan inspirasi hidup orang lain.Contohnya :
1.Bobby Martin dari Dayton Ohio yang lahir tanpa kedua kakinya namun dia bisa menjadi pemain pro NFL yang sangat hebat.
2.Qian Hongyan seorang gadis cilik dari China yang semua kakinya terpaksa di amputasi oleh dokter setelah kecelakan mobil saat dia masih berusia 3 tahun.Namun Qian tidak menyerah hidupnya.Justru dgn memakai bola basket yang ditopangkan kepada tubuhnya Qian bisa menjadi perenang handal dan mengikuti perlombaan pralimpeade London 2012.
3.Kevin Connonly yang terlahir tanpa kedua kakinya tetapi dia bisa menjadi Photographer alam dunia.Dan masih  banyak lagi orang-orang hebat yang cacat jasmani namun menginspirasi hidup orang lain.Saya ingin kakak bangkit dan seperti dulu yang membuatku kagum dan membanggakan keluarga serta sekolahmu.” Kataku panjang lebar.
      Kulihat dia termenung sambil mengusap-usap kaki kanan-nya yang selutut.Butiran air matanya tiba-tiba menetes. Kupeluk kakakku tercinta untuk memberikan kedamaian di hatinya.
     “Kita masih mempunyai Allah swt Kak,sepanjang kita yakin akan kekuasaan_Nya.Allah swt akan merubah nasib hamba_Nya selama kita mau merubahnya.Dan saya yakin dirimu mampu berdiri tegar mengalahkan kekejaman dunia ini.Ingatlah Kak,mentari tidak selamanya tenggelam dalam kegelapan namun senantiasa akan hadir mentari lain.”kataku lembut.
***********
Sebuah tropi kejuaraan tingkat Kabupaten bertengger di lemari tamu.Tropi dan piagam sebagai juara pertama atas perlombaan pentas seni dan budaya yang disematkan atas nama Alfian Dewantoro.
     Ada bongkahan kebanggaan menyelinap dalam hatiku untuk kakakku tercinta.Empat bulan sejak peristiwa kelam yang telah merenggut kakinya,kakakku bisa membuktikan bahwa kecacatan tidak bisa menghalangi langkah hidupnya.
Dia menjadi aktifis pemuda masjid bahkan mengajak semua teman-temannya yang dulu sering berbuat onar di kampung kami untuk bergabung dalam kesenian calung dan reog  serta giat dalam kegiatan Karang Taruna.
Kegiatannya tidak hanya di kampung kami tetapi dia juga melakukannya di sekolah bahkan mengikuti perlombaan Pentas Seni dan Budaya mewakili sekolahnya.Dia dan teman-te
mannya bisa berhasil meraih juara pertama mewakili sekolahnya.
       Sebuah tangan menyentuh pundakku dan saat kumenoleh sebuah senyuman tersungging di wajahnya yang berseri-seri.
     “Mengapa dirimu menangis,Andrea?”tanya kakakku.
     “Aku menangis karena bahagia dan bangga kepadamu,Kak!
Engkau sudah bangkit dan membuktikan siapa dirimu sendiri.”
Kataku seraya memeluknya.
    “Terima kasih juga buatmu Andrea atas semua dorongan semangat dan kasih sayangmu selaku adikku.Kakak juga berpikir bahwa hidup ini hanya sekali dan tak boleh menyia-nyiakan dengan hal yang negatif.Kakak tidak ingin kecacatan ini menghalangi untuk tidak berprestasi dan memberikan manfaat yang terbaik buat yang lain termasuk untuk keluarga kakak sendiri.Kakak masih menyimpan cita-cita kakak untuk tetap menjadi seorang dokter agar bisa mengabdi ke masyarakat terutama yang tidak mampu tanpa menghilangkan jiwa seni di jiwaku ini.
       “Saya yakin dirimu bisa meraih mimpimu,Kak!
         “Ya,kakak harus lebih giat lagi belajar dan berkarya agar orang lain pun terpacu.Kakak harus membuktikan bahwa tidak ada halangan untuk berkarya bagi manusia yang cacatpun.Seperti katamu dulu bahwa masih ada mentari yang akan bersinar lagi bagi orang yang masih mau meraih mimpi!’
Sahut kakakku dengan tersenyum.
        Kupeluk kakakku makin erat.Rasa sayang dan bangga makin menyelimuti hatiku.Terima kasih ya allah..
*********** 
 Al Reem Island,19 april 2015
Andrealica Nhordeeniz from Andrea Azzahra

0 komentar:

Poskan Komentar