Pages

Minggu, 17 Juli 2011

Petuah hidup

Share on :



Sahabat fillah…
Dunia sebenarnya sebuah mimpi sedangkan akhirat adalah sebenarnya,sementara pertengahannya adalah kematian.Kita berada pada impian yang susah di takwilkan.
Lihatlah umur yang tercecer bagaikan mimpi-mimpi yang susah di takwilkan.

Tahun-tahun berlalu bagaikan kejapan mata yang pergi  membawa kesenangan dan kesdihan,manis pahitnya kehidupan.
Namun yang tersisa hanyalah perhitungan..
Ya..Perhitungan diri kita di akhirat nanti..oleh sang Pemilik
Sahabat fillah…
Mari kita renungkan beberapa nasihat dari orang-orang hebat agar kita bisa mengambil pelajaran dalam mengarungi kehidupan dunia yang fana ini.

A.Menjadi Pengagum Akhirat

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu berkata:
"Sesungguhnya dunia telah pergi meninggalkan (kita) sedangkan akhirat telah datang di hadapan (kita), dan masing-masing dari  keduanya (dunia dan akhirat) memiliki pengagum, maka jadilah kamu orang yang mengagumi/mencintai akhirat dan janganlah kamu menjadi orang yang mengagumi dunia, karena sesungguhnya saat ini (waktunya) beramal dan tidak ada perhitungan, adapun besok (di akhirat) adalah (saat) perhitungan dan tidak ada (waktu lagi untuk) beramal."
(HR.Imam Ahmad dalam Az Zuhd (halaman 130) dan dinukil oleh Imam Ibnu Rajab Al Hambali dalam kitab beliau Jaami'ul 'uluumi wal hikam (halaman 461)).


B.Menjadi Anak Akhirat

'Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu memberi petuah kepada kita,
 "Dunia itu akan pergi menjauh. Sedangkan akhirat akan mendekat. Dunia dan akhirat tesebut memiliki anak. Jadilah anak-anak akhirat dan janganlah kalian menjadi anak dunia. Hari ini (di dunia) adalah hari beramal dan bukanlah hari perhitungan (hisab), sedangkan besok (di akhirat) adalah hari perhitungan (hisab) dan bukanlah hari beramal."
(HR. Bukhari )


C.Menjadi Musafir Di Dunia

Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma beliau berkata:
 Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda, "Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir." Ibnu Umar berkata: "Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi hari jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati."
(HR. Bukhari)

D.Nasihat Bagi Orang Yang Berakal

Imam Ibnu Hibban berpetuah,
"Orang yang berakal seharusnya lebih banyak mempergunakan kedua telinganya daripada mulutnya. Dia perlu menyadari bahwa dia diberi telinga dua buah, sedangkan diberi mulut hanya satu; adalah supaya dia lebih banyak mendengar daripada berbicara. Sering kali seseorang menyesal di kemudian hari akibat perkataan yang ia ucapkan, sementara diamnya dia tidak akan pernah membawa penyesalan. (Perlu diketahui pula) bahwa menarik diri dari perkataan yang belum diucapkan adalah lebih mudah daripada mencabut perkataan yang telah terlanjur diucapkan. Karena biasanya jika seseorang tengah berbicara, maka kata-katanyalah yang akan menguasai dirinya, sebaliknya jika tidak berbicara, maka ia mampu untuk mengontrol kata-katanya."
(Raudhah al-'Uqala wa Nuzhah al-Fudhala, halaman 45) 


E.Mutiara Tidak Ternilai Harganya

Imam an-Nawawi menasihatkan,
 "Ketahuilah, seyogianya setiap muslim berusaha untuk selalu menjaga lisannya dari segala macam bentuk ucapan, kecuali ucapan yang mengandung maslahat. Jikalau dalam suatu ucapan, maslahat untuk mengucapkannya dan maslahat untuk meninggalkannya adalah sebanding, maka yang disunnahkan adalah meninggalkan ucapan tersebut. Sebab perkataan yang diperbolehkan terkadang membawa kepada perkataan yang diharamkan atau yang dimakruhkan. Dan hal itu sering sekali terjadi. Padahal keselamatan (dari hal-hal yang diharamkan atau dimakruhkan) adalah sebuah (mutiara) yang tidak ternilai harganya."
(Riyadh ash-Shalihin, halaman 483)


F.Orang Yang Ususnya Terburai

Usamah bin Zaid ra meriwayatkan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Kelak pada hari kiamat didatangkan seorang lelaki lalu dilemparkan ke dalam neraka. Maka usus perutnya pun terburai lalu dia pun berputar-putar dengannya sebagaimana halnya seekor keledai yang mengelilingi alat penggiling. Maka para penduduk neraka pun berkumpul mengerumuninya. Mereka mengatakan, 'Wahai fulan, apa yang terjadi padamu. Bukankah dulu kamu memerintahkan yang ma'ruf dan melarang yang munkar?'. Dia menjawab, 'Benar. Aku dulu memang memerintahkan yang ma'ruf tapi aku sendiri tidak melaksanakannya. Dan aku juga melarang dari yang munkar namun aku sendiri justru melakukannya.'."
(HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/235] cetakan Dar Ibnu al-Haitsam tahun 2003


0 komentar:

Poskan Komentar